Senin, 21 November 2011

MANAJEMEN IBU INTRANATAL


Definisi:
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakansebagai metoda untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, ketrampilandalam rangkaiantahapan logis untuk pengambilan keputusan yang terfokus pada klien (Varney, 1997).

Tujuan:
Memberi asuhan kebidanan yang adekuat, komprehensif dan terstandar pada ibu intra natal dengan memperhatikan riwayat ibu selama kehamilan, kebutuhan dan respon ibu serta mengantisipasi resiko-resiko yang terjadi selama proses persalinan.

Hasil yang diharapkan :
Terlaksananya asuhan segera / rutin pada saat ibu intra partum (kala I s/d kala IV) termasuk melakukan pengkajian, membuat diagnose kebidanan, mengidentifikasi masalah dan kebutuhan terhadap tindakan segera baik oleh bidanmaupun oleh dokter atau melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta menyusun rencana asuhan dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah sebelumnya.

Langkah I: Tahap pengumpulan data
Data diperoleh melalui:
1. Anamnesa:
a. Biodata, data demografi
b. Riwayat kesehatan, termasuk factor hereditas dan kecelakaan
c. Riwayat menstruasi
d. Riwayat obsetri dan ginekologi, termasuk nifas dan laktasi
e. Biopsikospiritual
f. Pengetahuan klin
2. Pemerisaan fisik, sesuai kebutuhan dan tanda-tanda vital
3. Pemeriksaan khusus:
a. Inspeksi
b. Palpasi
c. Auskultasi
d. Perkusi
4. Pemeriksaan penunjang:
a. Laboratorium
b. Diagnosa lain: USG, Radiologi
c. Catatan terbaru dan sebelumnya
Data yang terkumpul ini sebagai data dasar untuk interpertasi kondisi klien untuk menentukan langkah berikutnya.

Langkah II: Interpretasi data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap masalah atau diagnose berdasarkan interpertasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Dirumuskan Diagnosa yang spesifik. Masalah psikososial berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami oleh wanita tersebut.
Contoh:
Diagnosa : G2p1A0, hamil 37 minggu. Janin tunggal, hidup, presentasi kepala, inpartu, kala I.
v Masalah : Wanita tersebut tidak menginginkan kehamilan ini, atau
v Wanita tersebut takut menghadapi proses persalinan
Kebutuhan: Konseling, atau rujukan konseling
Perasaan takut dan tidak menginginkan kehamilan tidak termasuk dalam “nomenklatur standar diagnose kebidanan”, tetapi perlu pengkajian lebih lanjut dan memerlukan penanganan khusus dan perencanaan yang terarah sehingga wanita ini dapat ditolong dan mendapatkan pelayanan yang memang ia buuhkan. Sehingga masalahnya tidak berlarut-larut.
Diagnosa Kebidanan
Diagnosa kebidanan adalah diagnose yang ditegakkan Bidan dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi “standar nomenklatur” (tata nama) Diagnosa Kebidanan.

Langkah III : Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Poensial
Pada langkah ini Bidan Mengidentifikasi Masalah atau Diagnosa potensial berdasarkan Diagnosa / masalah yang sudah teridentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bilamungkin dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan waspada dan bersiap-siap mencegah Diagnosa / masalah potensial ini agar tidak terjadi , kalau dimungkinkan dan bersiap-siap mnghadapinya bila Diagnosa / masalah potensial ini benar-benar terjadi. Langkah ini penting sekali dalam melakukan asuhan yang aman.

Contoh:
Seorang wanitamasuk kamar bersalin dengan pemuaian uterus yang berlebihan. Bidan harus mempertimbangkan kemungkinan penyebab pemuaian uterus yang berlebihan ini, misalnya mungkin hidramion, macrosomi, kehamilan ganda, ibu diabetes, dll.
Rencana Asuhan pada kala I :
1. Mengevaluasi kesejahteraan ibu, termasuk diantaranya :
a. Mengukur tekanan darah , Suhu ,Nadi, Pernafasan setiap 2-4 jam apabila ketuban masih uuh, setiap 1-2 jam apabila ketuban sudah pecah.
b. Mengevaluasi kandung kemih minimal setiap 2 jam
c. Apabila diperlukan melakukan pemeriksaan urine terhadap protein, keon
d. Mengevalusi hidrasi, spt tugor kulit
e. Mengevaluasi kondisi umum : Kelelahan dan kehabisan tenaga, perilaku dan respon terhadap persalinan, rasa sakit dan kemampuan koping.
2. Mengevaluasi keadaan janin, termasuk
a. Letak janin, presentasi, gerak dan posisi
b. Adaptasi janin terhadap panggul, apakah ada CPD
c. Mengukur DJJ dan bagaimana polanya, dapat dapat dievaluasi setiap 30 menit pada fase aktif, dan perlu dilakukan pengukuran DJJ pada saat : ketuban pecah, sesudah dilakukan enema (klisma), apabila tiba-tiba ada perubahan kontraksi selama proses persalinan, sesudah pemberian obat dan apabila ada indikasi terjadi komplikasi medic dan obstetric.
3. Mengobservasi kemajuan persalinan, termasuk melakukan observasi : penipisan pembukaan, turunnya bag terendah, pola kontraksi (frekuensi, durasi, dan intensitas), perubahan perilaku ibu, tanda dan gejala dari masa transisi dan mulainya kalaII, serta posisi dari puctum maximum.
4. Melaksanakan perawatan fisik ibu : menjaga kebersihan dan kenyamanan, perawatan mulut
5. Memberikan dukungan pada ibu dan keluarga
a. Bantulah ibu dalam persalinan jika ia tampak gelisah, ketakutan dan kesakitan
1) Beri dukungan dan yakinkan dirinya
2) Berikan informasi mengenai proses dan kemajuan persalinan
3) Dengarkan keluhannya dan cobalah lebih sensiif terhadap perasaannya
b. Jika ibu tampak kesakitan, dukungan / asuhan yang dapat diberikan :
1) Lakukan perubahan posisi sesuai dengan yang diinginkannya
2) Sarankan ibu untuk berjalan
3) Ajaklah orang yang menemaninya (suami atau ibunya) untuk memijat / mengosok punggung atau memmbasuh muka diantara kontraksi
4) Ajarkan kepadanya teknik bernafas, ibu diminta untuk menarik nafas panjang, menahan nafasnya sebentar kemudian dilepaskan dengan cara meniup udara keluar sewaktu erasa kontraksi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar